News

News / Sustainable and Livable Planet
Press Release Sustainability Week UN: Perwakilan SRE Bicara di UN General Assemby
Redaktur Greenimpact
21 April 2024
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyelenggarakan agenda pekan keberlanjutan pertama dalam majelis umum perserikatan bangsa-bangsa atau dikenal sebagai United Nation General Assembly Sustainability Week). Majlis PBB mengenai isu keberlanjutan ini diselenggarakan pada 15-19 April 2024 bertepatan di kantor pusat PBB New York, Amerika Serikat. Dalam pekan keberlanjutan tersebut, akan membahas mengenai isu-isu keberlanjutan seperti pariwisata keberlanjutan, transportasi keberlanjutan, pembangunan keberlanjutan dan interkonetivitas infrastruktur hingga membahas energi yang terjangkau serta ramah lingkungan. Presiden Majlis PBB ke 78, Yang Mulia Dennis Francis mengundang tokoh-tokoh pemimpin dunia untuk menyampaikan sesuai dengan isu yang tersedia. Terdapat Perdana Menteri Barbados, Perdana Menteri Uganda, Preiden Republik Polandia hingga tokoh penting lainnya sesuai dengan keahliannya. Indonesia dalam perhelatan pekan keberlanjutan ini dihadiri oleh Menteri Pariwisata yang berbicara pada isu pariwisata keberlanjutan, Zagy Yakana Berian selaku tokoh muda inspiratif di sektor energi yang keduanya menyampaikan pidato diatas podium ruangan Majlis PBB. Selebihnya pidato pada sektor lain diwakili oleh Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, Arrmanatha Christiawan Nasir. Menariknya dalam Majlis PBB ke 78 di isu keberlanjutan ini, Yang Mulia Dennis Francis berkali-kali mengucapkan generasi muda menjadi aset penting pembangunan dunia. Hal itu terbukti, Yang Mulia Dennis Francis mengundang Zagy sebagai pembicara termuda diantara tokoh pemimpin bangsa lainnya dalam agenda penting keberlanjutan ini. Zagy Yakana Berian, pemuda kelahiran Karawang yang berusia 26 tahun, mendapatkan kesempatan berbicara di podium yang sama seperti pemimpin negara setingkat presiden, Menteri, atau duta besar. Lahir dan tumbuh bersama masyarakat yang merasakan langsung terkait akses untuk mendapatkan energi membuat pemuda tersebut menjadi pembeda dengan Majlis PBB sebelumnya. Yang terpenting, memperkuat kolaborasi dan mempercayai kepemimpinan generasi muda harus menjadi pembicaraan yang terus dilakukan setiap harinya. Tanpa adanya kolaborasi dan generasi muda, estapet pembangunan keberlanjutan ini lebih sulit untuk digapai. Pidato yang disampaikan oleh Zagy yang juga disiarkan dalam UN WEB TV pada tanggal 19 April 2024, menekankan mengapa harus generasi muda yang menjadi pilar pembangunan bangsa di sektor energi. Tiga nilai unik generasi muda yaitu unik, kongkrit, dan tulus mendapatkan apresiasi dari pembicara lainnya. Posisi energi yang ditaruh sebagai faktor akselerasi pembangunan lainnya sejalan dengan pesan yang disampaikan dalam sesi yang membahas isu lainnya seperti pariwisata, transportasi dan pembangunan. Apresiasi tersebut didasari oleh sudut pandang unik dari Zagy, alih-alih mengeluh dan meminta. Namun Zagy datang dengan bukti nyata yang telah dikontribusikannya, pemuda itu menaruh dukungan yang diharapkan setelah apa yang telah dibangun. Dengan pendekatan berbasis tiga keunikan tersebut, Zagy mengungkapan contoh nyata yang telah diterapkan di Indonesia. Diantaranya adalah pembangunan pembangkit listrik skala kecil yang direplikasi dibanyak tempat, peningkatan edukasi kepada publik mengenai transisi energi, pendekatan berbasis solusi permasalahan kepada masyarakat, serta program yang dimiliki oleh Kementerian Energy dan Sumber Daya Mineral (KESDM) yaitu Generation of Renewable Energy Involving Youth Action Academy (GERILYA). "Sudah lima tahun kami berdiri bersama masyarakat untuk memahami komitmen investasi mereka. Saya mengakui adanya tantangan ke depan, namun saya yakin bahwa generasi Anda dan kami dapat bersama-sama menciptakan perubahan dan ketahanan," ujarnya. Saatnya, kepercayaan antar generasi mulai dibangun, Zagy mengungapkan optimisme keberhasilan diantara tantangan yang ada, investasi kepada generasi muda menjadi kunci dalam mencapai target Tujuan Pembangunan Keberlanjutan atau SDGs serta Net Zero Target di pertengahan abad ini. “Terdapat dua mimpi besar generasi muda saat ini, yaitu, pendanaan terkait akses energi keseluruh wilayah agar dapat meningkatkan ekonomi daerah. Serta, pendanaan peningkatan kapasitas di sektor greenjobs dan mendorong ekosistem bisnis generasi muda”, ujar pemuda Karawang tersebut. Dalam penutupan pekan keberlanjutan tersebut, terdapat 150.000 deklarasi aksi mengenai keberlanjutan dalam aplikasi UN Act Now. Presiden Majlis PBB ke 78 sangat senang melihat antusiasme ini, dan berkomitmen mengeskalasi isu ini hingga ke pertemuan puncak September 2024 nanti yaitu Summit of the Future.

News / Sustainable and Livable Planet
Zagy, Anak Muda Asal Karawang Curi Perhatian Di Majelis Umum PBB
Bambang Trismawan
20 April 2024
Pendiri Society of Renewable Energi (SRE) Zagy Yakana Berian mencuri perhatian sebagai pembicara termuda dalam acara Pekan Keberlanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung di markas pusat PBB, New York, Amerika Serikat dari 15-19 April 2024. Zagy, pemuda inspiratif dari Karawang, Indonesia, berusia 26 tahun, berbagi panggung dengan pemimpin dunia dan tokoh penting lainnya untuk membahas isu-isu penting terkait keberlanjutan, khususnya di sektor energi. Dalam pidatonya yang disiarkan melalui UN Web TV, Zagy menekankan peran kritis generasi muda dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Dia mengungkapkan bagaimana generasi muda, dengan pendekatan unik, konkret, dan tulus, dapat menjadi pilar utama dalam perjuangan menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan target Net Zero. Zagy menyoroti inisiatif yang telah diterapkan di Indonesia, termasuk pembangunan pembangkit listrik skala kecil dan program Generation of Renewable Energy Involving Youth Action Academy (GERILYA) yang berfokus pada partisipasi aktif pemuda dalam energi terbarukan. Dengan pendekatan berbasis tiga keunikan tersebut, Zagy mengungkapan contoh nyata yang telah diterapkan di Indonesia. Diantaranya adalah pembangunan pembangkit listrik skala kecil yang direplikasi dibanyak tempat, peningkatan edukasi kepada publik mengenai transisi energi, pendekatan berbasis solusi permasalahan kepada masyarakat, serta program yang dimiliki oleh Kementerian Energy dan Sumber Daya Mineral (KESDM) yaitu Generation of Renewable Energy Involving Youth Action Academy (GERILYA). Dalam hal ini, dua orang perwakilan Kementerian ESDM ikut hadir dan menyampaikan pesan dalam sesi intervensi sektor energi. "Sudah lima tahun kami berdiri bersama masyarakat untuk memahami komitmen investasi mereka. Saya mengakui adanya tantangan ke depan, namun saya yakin bahwa generasi Anda dan kami dapat bersama-sama menciptakan perubahan dan ketahanan," ujarnya. Zagy mengungkapkan, investasi kepada generasi muda menjadi kunci dalam mencapai target Tujuan Pembangunan Keberlanjutan atau SDGs serta Net Zero Target di pertengahan abad ini. “Terdapat dua mimpi besar generasi muda saat ini, yaitu, pendanaan terkait akses energi ke seluruh wilayah agar dapat meningkatkan ekonomi daerah. Serta, pendanaan peningkatan kapasitas di sektor greenjobs dan mendorong ekosistem bisnis generasi muda," paparnya. Presiden Majlis PBB ke-78, Yang Mulia Dennis Francis, menyatakan bahwa generasi muda adalah aset penting untuk pembangunan global, suatu tema yang Zagy Yakana Berian nyatakan dengan jelas dalam pidatonya. Dalam acara ini, Dennis Francis mengundang tokoh-tokoh pemimpin dunia untuk menyampaikan berbagai isu yang ada. Hadir misalnya Perdana Menteri Barbados, Perdana Menteri Uganda, dan Presiden Republik Polandia. Indonesia dalam perhelatan pekan keberlanjutan ini dihadiri oleh Menteri Pariwisata yang berbicara pada isu pariwisata keberlanjutan. Sementara itu, Zagy Yakana Berian bicara peran pemuda di sektor energi. Selebihnya pidato pada sektor lain diwakili oleh Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, Arrmanatha Christiawan Nasir. Di akhir pekan tersebut, lebih dari 150.000 deklarasi aksi keberlanjutan telah dicatat, menunjukkan dukungan kuat untuk agenda keberlanjutan yang diusung oleh PBB dan peran penting yang diambil oleh pemuda seperti Zagy dalam mencapai target-target global ini.
News / Sustainable and Livable Planet
COP28 Dubai: Sadar Pentingnya Anak Muda Dalam Inisiatif Kelistrikan, DesaBumi Gandeng SRE
Firsty Hestyarini
12 Januari 2023
Latest News

News / Sustainable and Livable Planet
Sesi Leadership Bootcamp Dimulai, Hari Ini Peserta Kunjungi Rumpin
Khoirul Umam
9 Februari 2023
Respons mahasiswa dalam mengikuti Kompetisi Menulis Artikel Energi Terbarukan dan Perubahan Iklim: National Energy, Climate, Sustainability Competition (NECSC) 2023, yang digelar Rakyat Merdeka dan Society of Renewable Energy (SRE), sangat luar biasa. Tercatat, ada 225 peserta yang lolos penyisihan, dari 520 pendaftar awal yang mengikuti lomba ini. Mereka berasal dari 72 kampus/sekolah di 32 kota. Rakyat Merdeka bersama SRE, telah beberapa kali melakukan kolaborasi kegiatan. Kami bangga, karena tiap kali digelar event terkait tema-tema pengembangan transisi energi dan perubahan iklim, banyak sekali anak muda di negara kita yang antusias mengikutinya. SRE atau Society Renewable Energy yang didirikan Zagy Yakana Berian, adalah wadah anak-anak muda Indonesia yang peduli pada energi baru terbarukan dan perubahan iklim. Gerakan ini lahir tahun 2019 diinisiasi sejumlah mahasiswa ITB. Lalu melebar ke UGM, UI, ITS, IPB dan kini sudah tersebar di 44 kampus seluruh Indonesia. Jumlah anggotanya yang teregister mencapai lebih dari 3 ribu orang. Tahun 2021, SRE yang baru terbentuk di 34 kampus, menggelar kompetisi menulis International Youth Summit for Society of Renewable Energy (IYSRE). Memperebutkan Piala Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Bertema Indonesia Bangkit Menuju Energi Alternatif. Sebanyak 50 artikel terbaiknya, sudah dibukukan dengan judul Indonesia Menuju Energi Bersih. Kali ini, kompetisi menulis NECSC 2023 yang kick off-nya digelar pada Agustus 2022, dihelat dengan cakupan yang lebih luas. Tak hanya menyajikan kategori Energi, tetapi juga Lingkungan. Piala bergilir yang diberikan pun ada dua. Piala bergilir Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Dari total 225 peserta yang lolos kualifikasi, sebanyak 52 persen peserta, menulis untuk kategori Energi. Sedangkan 48 persen sisanya, adalah kategori lingkungan. Sebanyak 50 karya terbaik, akan disusun menjadi sebuah buku yang menjadi semacam legacy para mahasiswa/pelajar, dalam pesan-pesannya kepada pemerintah tentang transisi energi dan lingkungan hidup. Serta rekomendasi program Community Development, bagi perusahaan kolaborator. Menariknya lagi, kompetisi ini tak hanya sekadar memberikan hadiah uang kepada 10 pemenang terbaik untuk masing-masing kategori Energi dan Lingkungan, dengan total nilai Rp 50 juta. Lebih dari itu, 100 peserta terseleksi juga akan mendapatkan pengalaman berharga tentang kepemimpinan melalui program Leadership Bootcamp selama tiga hari di Makara Art Center Universitas Indonesia Depok, pada 10-12 Februari 2023. Di hari pertama, Jumat 10 Februari, 100 peserta terseleksi akan melakukan kunjungan ke Fasilitas Persemaian Rumpin, Bogor, Jawa Barat. Didampingi tim dari Rakyat Merdeka, SRE, dan KLHK. Malamnya, peserta akan mendapatkan briefing mengenai agenda Leadership Bootcamp. Sabtu, 11 Februari, peserta akan mendapatkan pembekalan workshop technical skill dan soft skill dari tim SRE, serta studi kasus dari perusahaan kolaborator yang harus diselesaikan dalam 1 malam. Minggu 12 Februari, pembicara para tokoh Kementerian/BUMN dan swasta akan menyampaikan kisah inspiratif dan pengalaman kepemimpinannya, dalam sesi Leadership Talk. Sesi yang rencananya diikuti 400 mahasiswa ini, akan menghadirkan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bambang Hendroyono, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo, GM HSE, Risk Management & Team Leader PT Adaro Energy Indonesia Tbk Rusdi Husin, Group Head of Sustainability GoTo Tanah Sullivan, dan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Holding Company Achmad Bakir Pasaman. Setelahnya, akan disampaikan pengumuman pemenang lomba. Serta penyerahan Piala Menteri ESDM kepada Juara I Kategori Energi tingkat mahasiswa dan Piala Menteri LHK kepada Juara I Kategori Lingkungan tingkat mahasiswa.

News / Sustainable and Livable Planet
COP28 Dubai: Sadar Pentingnya Anak Muda Dalam Inisiatif Kelistrikan, DesaBumi Gandeng SRE
Firsty Hestyarini
12 Januari 2023
Founder DesaBumi, Gamma Thohir menegaskan pentingnya keterlibatan anak muda dalam mendukung fasilitas kelistrikan di desa-desa terpencil. Itu sebabnya, DesaBumi intens menjalin kerja sama dengan Society of Renewable Energy (SRE), organisasi anak muda yang memfokuskan perhatian pada sektor energi terbarukan. SRE yang didirikan Zagy Yakana Berian di kampus ITB pada tahun 2019, dikenal aktif mengakselerasi transisi energi di Indonesia melalui pemberdayaan anak muda secara inklusif dan kolaborasi multinasional. Di acara COP28 yang digelar di Expo City, Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), dua organisasi anak muda resmi menandatangani kesepakatan kerja sama di bidang energi terbarukan, demi menuju Indonesia yang lebih baik, Jumat (1/12/2023). Tak sekadar mencapai target nol emisi karbon, tetapi juga aktif memberdayakan masyarakat. “Bersama rekan saya Zagy, yang juga hadir dalam acara ini, kami berkolaborasi mempercepat dan memperluas akses kelistrikan di desa terpencil, melalui energi terbarukan. Kami menargetkan 10 desa terpencil di Indonesia, yang betul-betul belum teraliri listrik,” papar Gamma dalam acara talk show COP28 di Paviliun Indonesia di Expo City, Dubai, dan Uni Emirat Arab (UEA), Jumat (1/12/2023). Gamma menekankan, DesaBumi tak hanya sekadar menjadi akses kelistrikan, tetapi juga alat untuk mencapai kesejahteraan. Kuncinya, energi berkelanjutan yang dipadukan dengan inisiatif ekonomi lokal. "Buat saya pribadi, DesaBumi tak hanya sekadar proyek, tetapi juga menjadi semacam perjalanan untuk menemukan bukti keragaman budaya di Indonesia. Bagi saya yang lahir dan tumbuh di Ibu Kota, membangun DesaBumi membuat saya menjadi lebih banyak belajar dan mencintai Indonesia," ucap Gamma. Pengukuhan kerja sama di bidang energi terbarukan yang melibatkan anak muda dalam event COP28 Dubai ini, disambut gembira oleh Zagy. "Saya dan Gamma percaya, bahwa kami dapat berkolaborasi bersama, dalam membuka akses energi di Indonesia. Kami percaya, dapat menjawab tantangan besar penyediaan akses energi yang setara bagi 270 juta rakyat Indonesia, yang tersebar di lebih dari 16 ribu pulau," tutur Zagy. DesaBumi, yang dulunya bernama Mycro Hydro for Indonesia adalah inisiatif yang digagas Gamma, saat masih berusia 15 tahun. Inisiatif ini ditujukan untuk menjembatani kesenjangan pembangunan antara perdesaan dan perkotaan di Indonesia melalui energi baru dan terbarukan. Hingga saat ini, Desa Bumi telah ada di tiga lokasi di Indonesia. Pertama, di Kasepuhan Ciptagelar Sukabumi, Jawa Barat, yang terletak di lereng Gunung Halimun. Di Kasepuhan ini, DesaBumi memfasilitasi listrik untuk masyarakat setempat melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) berkapasitas 40 kw. Kedua, di Desa Liyu, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Di desa yang dihuni masyarakat adat Dayak Deah dan terletak di kawasan geosite Geopark Meratus, DesaBumi mendukung akses listrik dari energi surya berkapasitas 2,9 kw untuk pengembangan kegiatan pariwisata yang ramah lingkungan. Ketiga, di Desa Bangkiling Raya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Di semester pertama 2023, DesaBumi mendukung kelistrikan di Bangkiling Raya melalui pemasangan panel surya dengan kapasitas 5,3 kw. Fasilitas listrik 5,3 kw ini telah dirasakan manfaatnya oleh 400 santri Pondok Pesantren Mifthahululum, yang berkolaborasi erat dengan Desa Bangkiling Raya untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam, demi kesejahteraan warga setempat. Dalam kegiatan bisnis pesantren, akses listrik 5,3 kw ini mampu menerangi 35 rumah lebah, memfasilitasi perikanan air tawar dengan 20 ribu ikan, dan telah menghasilkan uang hingga 30 ribu dolar AS.

News / Clean Mobility
Net Zero Emission Tujuan Peralihan Penggunaan Kendaraan Umum Bertransisi
I Gede Adi Guna Apriana
29 Desember 2022
Dunia penuh akan hiruk pikuk kehidupan. Tahun ini, populasi dunia menyentuh angka hampir di delapan miliar orang. Angka yang luar biasa fantastis untuk mengoyak bumi ini secara tak langsung. Manusia berpijak di atas bumi ini, di sinilah mereka juga kita tinggal dan melangsungkan kehidupan. Tapi, pernah kah bertanya bagaimana bumi ini sendiri hidup? Saya pun selaku mahasiswa semakin berpikir ketika diberikan sebuah petuah oleh dosen saya seperti: �bumi sebenarnya bisa pulih dengan sendirinya�. Artinya bumi tidak perlu kita? Tidak sepenuhnya benar, tapi memang dapat dikatakan kita yang menjadikan bumi sebagai rumah justru ikut berperan terhadap kerusakan bumi itu sendiri. Hal itu akibat tingkah kita yang kadang acuh tak acuh terhadap kata �keberlanjutan�. Orientasi penggunaan sesuatu hanya berfokus pada kepuasaan saat ini saja, tanpa tahu akibat ke depannya. Hal sederhana adalah penggunaan bahan bakar tidak ramah lingkungan pada kendaraan bermotor terkhususnya di Indonesia. Bertambahnya penduduk di Indonesia linear dengan angka kepemilikan kendaraan bermotor pribadi. Secara tidak langsung hal tersebut bermakna bahwa penduduk meningkat maka polusi juga meningkat. Net Zero Emission adalah sebuah komitmen yang baru baru ini melejit sebagai sebuah harapan Indonesia bahkan dunia untuk lebih baik lagi dalam hal ‘merawat bumi’. Net Zero Emission atau nol emisi karbon adalah kondisi di mana jumlah emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer tidak melebihi jumlah emisi yang mampu diserap oleh bumi. Secara umum, hal yang bisa dilakukan adalah dengan transisi energi baik di bidang apapun itu. Di sini penulis ingin lebih memfokuskan terhadap bidang transportasi, hal tersebut yang menjadi alasan mengapa penulis mengambil contoh kendaraan bermotor. Mengingat dampak polusi kendaraan bermotor berada di posisi �papan atas� dalam hal menyumbang emisi, Hal tersebut sejalan dengan apa yang tertera dalam laman website Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di mana sektor transportasi adalah sumber pencemaran yang utama di wilayah perkotaan. Emisi kendaraan bermotor berkontribusi sebesar 70 persen terhadap pencemaran Nitrogen Oksida (NOx), Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2) dan Partikulat (PM) di wilayah perkotaan. Emisi inilah yang merusak lapisan atmosfer yang kemudian bertanggung jawab atas perubahan iklim besar-besaran saat ini. Dari hal di atas serta analisis penulis melalui sumber pendukung lainnya, penulis berpandangan bahwa akibat kuantitas kendaaran pribadi yang terlalu ekstrem menyebabkan kadar polusi pun ikut meningkat. Melalui sebuah sumber penelitian menyoroti penyumbang pencemaran terbesar di Indonesia yaitu oleh kendaraan bermotor. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (hingga 2013), telah terjadi lonjakan jumlah kendaraan bermotor yang sangat pesat, khususnya oleh pertambahan sepeda motor (pribadi), yang mencapai 30%. Sekitar lebih kurang 70% terdistribusi di daerah perkotaan. Selain itu, kendaraan umum memang kurang diminati keberadaannya oleh masyarakat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2019 pengguna kendaraan pribadinya sebesar yakni 83,76%, sedangkan pengguna kendaraan umum 11,81%. Sementara untuk skala provinsi seperti di Jawa Barat misalnya, pada 2020 ada lebih banyak pekerja komuter pengguna transportasi umum dengan persentase hampir 56%. Sedangkan pengguna kendaraan pribadi 39,76%. Adapun proporsi pekerja komuter pengguna kendaraan pribadi paling besar tercatat di Bali, yakni mencapai 88,22% pada 2020. Selain kurangnya minat, memang pada dasarnya kendaraan umum jumlahnya tidak cukup memadai untuk memenuhi permintaan populasi yang membludak. Sebagai contoh menurut berita detik.com, jumlah angkutan umum di Bandung, Jawa Barat setiap tahun terus mengalami penurunan. Namun di sisi lain, berkurangnya transportasi massal ini malah memicu bertambahnya kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat. Jumlah angkutan umum pada 2019 tercatat mencapai 13.610 unit. Sedangkan, jumlah kendaraan pribadi tembus hingga angkat 1.715.940 unit. Ditambah lagi fasilitas pendukung transportasi atau kendaraan umum masih sangat kurang diperhatikan. Saya mendeskripsikan apa yang menjadi alasan saya secara pribadi enggan naik kendaraan umum dalam hal ini adalah bus umum, yaitu: kurang banyaknya titik check point (titik henti sementara) atau rute yang kurang lengkap sehingga terkadang tidak bisa sekali jalan, halte yang kurang memadai di beberapa titik hentinya, kurangnya keteraturan jadwal, dan terkadang demi mengejar jadwal, banyak supir yang ugal-ugalan. Serta, hal terakhir yang penulis amati adalah kurangnya niat untuk memajukan kendaraan umum yang bertransisi energi. Saya selaku penulis sering melihat tertempel sebuah tulisan pada sebuah bus umum yang berbunyi semacam �clean & green energy� lantas dibarengi dengan asap kendaraan yang ia keluarkan melalui knalpotnya. Hal yang amat bertolak belakang dan membuat hati ini geram. Saya amat menyarankan bahwa hal semacam di atas mampu untuk dihentikan atau minimal dikurangi. Pemerintah harus mengambil langkah tegah dalam menyusun regulasi yang ada, bagaimana sebaiknya kendaraan pribadi dibatasi keberadaannya, serta bagaimana kendaraan umum sebaiknya. Kemudian, di prioritaskan dari segi pengadaannya, pengaturan atau skema rutenyaenyediaan SDM yang layak dalam pengelolaannya, mengatur fasilitasnya agar mencukupi, sekaligus menjadikan kendaraan umum tersebut kendaraan yang memang clean energy melalui transisi energi yaitu dengan penggunaan sistem listrik dalam menjalankannya atau disebut elitrifikasi kendaraan. Masyarakat juga harus mampu memiliki pola piker yang mampu berpandangan kedepan, dengan masyarakat mau membatasi atau menahan ego mereka dalam memiliki kendaraan pribadi, lantas menggunakan kendaraan umum adalah sebuah kunci untuk mencapai Net Zero Emission sesuai dengan rencana sehingga NZE bukan lagi harapan semata, tetapi adalah sebuah tujuan.

News / Sustainable and Livable Planet
Bantu Korban Gempa Cianjur, Anak Muda SRE Berikan Lampu Tenaga Surya
Marula Sardi
3 Desember 2022
Sekelompok anak muda dari jejaring Society of Renewable Energy (SRE) menggalang dana untuk membantu Cianjur, Jawa Barat. Uniknya, dana tersebut tidak hanya dibelikan untuk sembako saja, tetapi untuk Lampu Tenaga Surya. “Selain sandang, pangan, dan papan hal yang dibutuhkan lagi adalah energi. Kami melihat malam hari banyak posko yang masih memerlukan penerangan. Hal tersebut dikarenakan posko pengungsian jauh dari akses listrik” ujar Zagy Yakana Berian, penggagas SRE. Dengan jejaring mahasiswa yang tersebar di 40 Kampus dari hanya di Institut Teknologi Bandung (ITB) saja, kali ini SRE dari Universitas Telkom dan ITB yang turun langsung memberikan bantuan dan berkolaborasi dengan masyarakat dalam membangun infrastruktur sederhana. Proses pemasangan dilakukan di malam hari untuk mengetahui titik yang membutuhkan penerangan pada Kamis (1/12) malam. Diantaranya posko yang terletak di Mekarsari, Cianjur. “Teknologinya sederhana, apalagi tiang nya dari kayu yang mudah didapat di lokasi membuat masyarakat mudah juga membantu dan merawat sistem tersebut. Kami membuat desain nya portable agar dapat di mobilisasi kemudian hari sesuai kebutuhan masyarakat. Kami juga mengedukasi masyarakat dalam proses pemasangan dan manfaat dari energi surya yang bersih juga terbarukan” ujar Zagy Kegiatan sosial membantu korban gempa Cianjur juga dilakukan untuk memberikan edukasi sosial energi bersih dan terbarukan dari Matahari. Khairul Rizki, ketua SRE Universitas Telkom yang membawa 12 temannya mengatakan dalam proses pemasangan, masyarakat sangat antusias dalam membantunya. Titik yang dipilih diantara lain akses menuju toilet, halaman belakang tenda, dan pos yang digunakan untuk berjaga saat malam oleh masyarakat setempat. Dalam satu posko, lampu yang diberikan idealnya 7-12 sesuai area dari posko tersebut. Anak muda yang notabene nya adalah mahasiswa ini, juga memasang dibeberapa titik posko milik KBUMN dan juga KESDM. Hal tersebut disambut baik terlebih manfaatnya sangat terasa. Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari publik, SRE terus menginformasikan kepada publik terkait penyaluran bantuan dan masih membuka bantuan untuk beberapa lokasi lainnya.

News / Sustainable and Livable Planet
Generasi Muda Dukung Folu Net Sink 2030
Zagy Yakana Berian
12 November 2022
Komitmen Indonesia dalam menjaga keseimbangan emisi sektor kehutanan dan penggunaan lainnya atau FOLU Net Sink 2030, ditunjukkan dalam aksi-aksi nyata yang didukung tiga negara maju. Hal itu dibahas dalam sesi World Climate Leaders' Insight on Indonesia's FOLU Net Sink 2030 di Paviliun Indonesia COP 27 UNFCCC, Sharm El-Sheikh, Mesir, Rabu, (9/11) waktu setempat. Sesi ini dihadiri Menteri Inggris Raya (UK) untuk Asia, Energi, Iklim dan Lingkungan Lord Zac Goldsmith, Menteri Luar Negeri Norwegia Tvinnereim, dan Wakil Sekretaris Deputi untuk Kebijakan Iklim Amerika Serikat Rick Duke. Terkait hal ini, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan sektor FOLU menjadi faktor penting (berkisar 60 persen dari target reduksi emisi) dalam pencapaian NDC Indonesia, yang pada COP27 telah disampaikan dalam Enhanced NDC. Dalam sesi ini, Menteri Siti menegaskan, keberhasilan kebijakan iklim perlu didorong dari tingkat pusat hingga ke tingkat tapak. Gayung bersambut dari tiga negara maju lainnya. Mereka sepakat, generasi muda dan aksi kolaborasi mampu meweujudkan tujuan tersebut. Dalam kesempatan ini, hadir beberapa generasi muda dari penggiat sektor lingkungan dan juga energi untuk mengantar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di sektor energi bersih dan juga perubahan iklim. Antara lain Zagy Yakana Berian, Founder Society of Renewable Energy (SRE). SRE adalah organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang percepatan implementasi teknologi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Zagy Berian menyampaikan pandangannya, tentang aktivitas ekonomi masyarakat desa, yang sebagian besar tinggal di dekat hutan, atau di dalam hutan yang memiliki potensi komoditi dan produk lokal penyumbang sektor ekonomi Indonesia. Namun, terkendala infrastruktur energi. Untuk itu, diperlukan sinergi untuk memberikan akses terhadap energi, dalam mendukung sektor ini. Menurutnya, ruang kolaborasi turut menjadi hal yang dibutuhkan generasi muda. Ini juga disuarakan oleh salah satu perwakilan Green Leadership Indonesia. Pandangan ini ditanggapi dan disambut baik oleh Menteri UK Lord Zac. Dia mengatakan, perubahan iklim adalah hal yang tidak dapat dihindari. Karena itu, generasi muda harus dapat terus bersinergi mendukung tercapai target bersama. Hal serupa juga dikatakan Menteri Luar Negeri Norwegia, Tvinnereim, yang menyebut langkah Indonesia dapat ditiru oleh berbagai negara lainnya. Sementara Wakil Sekretaris Deputi untuk Kebijakan Iklim Amerika Serika Rick Duke, menyampaikan tantangan yang harus diperhatikan untuk menyeimbangkan pemanfaatan energi bersih. Dengan mengoptimalkan lahan yang diperlukan, termasuk penggunaan lahan tersebut. Banyak teknologi yang dapat menjadi alternatif solusi dalam menjawab hal itu. Generasi muda perlu juga memikirkan inovasi untuk mewujudkan integrasi dalam SDGs ini. Sesi yang dimoderatori Penasihat Senior Menteri LHK, Efransjah ini juga menyampaikan pesan, bahwa payung besar SDGs adalah isu menarik untuk dikawal generasi muda.

News / Sustainable and Livable Planet
Menteri LHK Dan Menteri ESDM Tergetar Lihat Semangat Anak Muda
Nur Rochmannudin
22 Agustus 2022
Kesadaran akan pentingnya energi ramah lingkungan mulai terpatri pada diri anak-anak muda. Melihat semangat tersebut, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengaku tergetar. Semangat para anak muda itu terlihat saat Society of Renewable Energy (SRE) bekerja sama dengan Rakyat Merdeka meluncurkan Kompetisi Nasional Essay 2022 RM Community dan SRE, di Gedung Kementerian LHK, kemarin. Peserta acara ini diisi para mahasiswa dari berbagai kampus ternama. Ada Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember Semarang (ITS), Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Universitas Trisakti, Universitas Gunadarma, dan yang lainnya. Sebagian mahasiswa hadir secara langsung di lokasi, sebagian lagi secara virtual. Acara berlangsung meriah. Dimulai dari sambutan Founder SRE Zagy Berian, CEO Rakyat Merdeka Group Kiki Iswara Darmayana, Menteri LHK Siti Nurbaya, dan Menteri ESDM Arifin Tasrif. Kemudian dilanjutkan diskusi yang diisi Sekjen Kementerian LHK Bambang Hendroyono dan Sekjen Kementerian ESDM Rida Mulyana. Di akhir acara, dipaparkan teknis kompetisi dan penulisan essay oleh perwakilan SRE Felicia Priskilla dan Salma Ranggita Cahyariyani, Pemimpin Redaksi RM.id Firsty Hestyarini, dan Redaktur Eksekutif Rakyat Merdeka Ujang Sunda. Pimpinan kementerian dibuat tercengang saat Zagy melaporkan perkembangan SRE. Pada 2019 hanya berada di 3 kampus. Seiring berjalannya waktu, ribuan mahasiswa dari 40 perguruan tinggi ikut bergabung. "Mereka adalah penggiat energi bersih, iklim, dan lingkungan yang memiliki spirit menciptakan masa depan lebih baik," tutur Zagy, disambut tepuk tangan seisi ruangan. Hal itu diamini Kiki. Perubahan iklim dan transisi energi sudah menjadi isu global yang menarik perhatian anak-anak muda Indonesia. Menurutnya, kepedulian generasi milenial dan zilenial akan menjadi kekuatan di era transisi energi menuju net zero emission pada 2060 yang mempercepat penanganan perubahan iklim. Sejak pendirian SRE, Rakyat Merdeka terus mendampingi dan mendukung. Pergerakan mereka bahkan tak lagi di tingkat mahasiswa, melainkan sudah sampai ke sekolah-sekolah menengah. Salah satu contohnya mengenai kompetisi essay, tahun ini sudah yang kedua. Pada 2021, ada ratusan karya yang masuk. Sebanyak 50 karya terbaiknya dibukukan dengan judul: “Indonesia Menuju Energi Bersih”, yang diterbitkan RM Book. Diharapkan, tahun ini penyelenggaraan kompetisi essay akan menghasilkan lebih banyak ide dan gagasan. "Seluruh naskah dan artikelnya akan kami kumpulkan dalam platform RM Community, agar bisa didokumentasikan secara digital. Seluruh tulisan terkait penanganan perubahan iklim dan transisi energi yang masuk dalam platform RM Community selanjutnya akan mengikuti proses penjurian," terang Kiki. Mendengar progres ini, Menteri Siti Nurbaya bergetar, ikut merasakan semangat anak-anak muda. "Hari ini, mungkin salah satu yang paling membahagiakan selama saya jadi menteri," akunya. Ia menyebut, anak-anak muda inilah para pemimpin Indonesia di masa depan. "Gayung bersambut saling bertemu, denyut dan getaran generasi muda Indonesia sangat membanggakan," akunya, kembali terharu. Dia melanjutkan, Pemerintah serius dalam hal pengendalian perubahan iklim. Terbukti dari komitmen mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen, atau setara 834 juta ton CO2 dengan usaha sendiri atau sampai dengan 41 persen atau setara dengan 1.185 juta ton CO2 dengan dukungan internasional yang memadai pada 2030. Sektor Kehutanan mempunyai porsi terbesar, yakni 17,2 persen. Sementara sektor energi 11 persen, sektor pertanian 0,32 persen, sektor industri 0,10 persen, dan pada sektor limbah 0,38 persen. "Untuk sektor energi akan disampaikan lebih komprehensif oleh Bapak Menteri ESDM," imbuh Siti. Kata Menteri Arifin Tasrif, efek pemanasan global sudah dirasakan semua kalangan masyarakat. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) merekomendasikan agar membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat celcius. Hal itu untuk menghindari dampak bencana global, seperti panas ekstrem, naiknya permukaan laut, punahnya beberapa makhluk hidup, terjadinya perubahan ekosistem, dan punahnya terumbu karang, serta perikanan laut. Sesuai Paris Agreement, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi GRK sebesar 29 persen dengan usaha sendiri atau 41 persen dengan bantuan internasional pada 2030. Dari penurunan emisi tersebut, sesuai dengan Nationally Determined Contributions (NDC) sektor energi diharapkan dapat berkontribusi dalam menurunkan sebesar 314 Juta Ton CO2 pada 2030 melalui pengembangan energi terbarukan, pelaksanaan efisiensi energi dan konservasi energi, serta melakukan penerapan teknologi energi bersih. Untuk jangka panjang, Kementerian ESDM menyusun roadmap transisi energi menuju Net Zero Emission pada 2060. Strategi utamanya melalui pengembangan EBT secara masif dengan fokus pada tenaga surya, hidro, panas bumi, serta hidrogen; Retirement PLTU secara bertahap, pemanfaatan teknologi rendah emisi seperti teknologi CCS/CCUS, serta pemanfaatan energi hidrogen dan nuklir. "Sedangkan di sisi demand adalah pemanfaatan kompor listrik dan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, di samping penerapan manajemen energi," terang Arifin. Pada jangka menengah, Kementerian ESDM menetapkan RUPTL PLN 2021-2030 dengan penambahan kapasitas EBT ditargetkan sebesar 20,9 GW atau 51,6 persen dari total pembangkit pada 2030. Sementara untuk jangka pendek, terdapat beberapa program. Yakni Pengembangan PLTS Atap dengan target 3,6 GW pada 2025; Program dedieselisasi, yaitu konversi PLTD ke Pembangkit EBT dan Gas sebesar 2 GW; Co-firing biomassa pada PLTU; dan pengembangan EBT off-grid bagi pemenuhan listrik di daerah 3T. "Generasi muda adalah salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi rendah karbon yang berkelanjutan. Untuk itu, diperlukan kesadaran para pemuda terhadap energi bersih, lingkungan, dan perubahan iklim. Peran generasi milenial dalam pengembangan energi terbarukan atau energi hijau sangat dinantikan," pungkasnya.

News / Green Energy
Ide Dan Strategi Gotong Royong Kaum Muda Untuk Energi Bersih
Aditya Nugroho
27 Januari 2022
Data Kementerian ESDM menunjukkan, energi baru terbarukan yang digunakan di Indonesia saat ini mencapai 11,5 persen. Padahal, target pemerintahan Jokowi cukup ambisius. Yaitu, 23 persen di tahun 2025. Ini artinya, dalam waktu empat tahun ke depan, perlu upaya ganda agar target tercapai sempurna. Potensi ketersediaan energi alternatif di tanah air sangatlah besar. Presiden Jokowi, saat berkunjung ke Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, baru-baru ini menyebut, Indonesia diperkirakan memiliki cadangan energi baru terbarukan sebesar 418 ribu Megawatt. �Baik itu dari tenaga air, panas bumi, arus bawah laut, panas permukaan laut, angin, tenaga surya, semua kita miliki,� papar Presiden, seperti dikutip di berbagai media. Euforia potensi energi alternatif yang besar ini tentu harus diimbangi dengan langkah-langkah strategis agar bisa direalisasikan. Kementerian ESDM memang telah menggagas roadmap untuk itu. Baik jangka panjang maupun jangka pendek. Di forum tingkat tinggi, COP 26 Glasgow, United Kingdom, November tahun lalu, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan komitmen Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Itu berarti, sejak sekarang, Indonesia harus mulai agresif membangun dan memanfaatkan energi-energi alternatif yang ramah lingkungan. Sekaligus, mempensiunkan, energi fosil yang jadi sumber emisi karbon, secara bertahap. Di sana, Pemerintah menyampaikan komitmen bahwa, energi surya akan mendominasi bauran energi baru terbarukan di Indonesia. Hal yang sangat beralasan, mengingat, negara kita adalah negara tropis dan mendapat sinar matahari sepanjang tahun. Menunjang komitmen itu, telah lahir beleid berupa Peraturan Menteri ESDM yang isinya dinilai responsif dan menjawab kebutuhan zaman. Bahkan, sangat menarik karena ada sejumlah benefit diberikan untuk masyarakat yang ikut memasang panel surya. Permen yang dimaksud yaitu Nomor 26 Tahun 2021 tentang Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap yang Terhubung Pada Jaringan Tenaga Listrik Pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum (IUPTLU). Ini menyempurnakan peraturan yang telah dikeluarkan sebelumnya. Secara singkat, substansi pokok dari peraturan ini adalah, meningkatkan nilai ekspor kWh listrik (penjualan listrik dari konsumen ke PLN) yang semula dihargai 65 persen dari harga yang dibeli PLN, menjadi 100 persen. Artinya, listrik yang dihasilkan solar panel di tingkat masyarakat bisa �dijual� dengan harga sama yang dibanderol PLN. Menariknya lagi, hasil listrik dari panel surya yang dipasang di rumah, jika berlebih, bisa jadi deposit di rekening listrik kita, dan berlaku hingga enam bulan ke depan. Untuk mengajukan permohonan pemasangan panel surya atau PLTS atap, kini juga lebih singkat. Hanya lima hari, jika tanpa penyesuaian PJBL atau Perjanjian Jual Beli Listrik. Atau 12 hari jika ada PJBL. Peraturan ini juga membuka peluang perdagangan karbon dari PLTS Atap. Artinya, jika masyarakat umum memasang panel surya di rumah-rumah, akan ada semacam insentif tambahan sebagai konsekwensi dari berkurangnya emisi karbon di lingkungan kita. Semua benefit ini perlu dikampanyekan lebih massif, agar masyarakat tertarik memasang panel surya sehingga pada gilirannya, makin banyak yang menggunakan energi ramah lingkungan, dan berkontribusi cepat pada penurunan emisi gas rumah kaca. Kementerian ESDM memproyeksikan, pemanfaatan panel surya atau PLTS Atap akan mencapai 3,6 Gigawatt pada tahun 2025. Dan, pelanggan yang memiliki rumah minimal tipe 45, dengan kapasitas listrik 1.300 VA, akan jadi target potensial konsumennya. Jika ini tercapai, maka dampaknya terhadap lingkungan cukup bagus. Potensi penurunan emisi, mencapai 4,58 juta ton CO2 ekuivalen, dari total reduksi 170 juta ton CO2 ekuivalen di tahun 2030. Selain itu, juga ada peluang bagi Pemerintah mendapatkan Rp60 miliar per tahun dari penjualan karbon. Asumsinya, CO2 ekuivalen dihargai 2 USD per ton. Salah satu upaya untuk mempercepat bauran ini, Pemerintah perlu melirik peran dan potensi kalangan generasi muda. Mereka memiliki idealisme dan sangat mendukung transisi energi bersih Indonesia. Pemanfaatan PLTS Atap, misalnya, diperkirakan akan menyerap 121.500 pekerja. Data dari Badan Pusat Statistik menyebut, 30 persen jumlah penduduk Indonesia di tahun 2021 adalah generasi usia di bawah 25 tahun. Proyek pengembangan energi alternatif beberapa tahun ke depan, sudah pasti mengincar tenaga kerja di generasi ini. Bahkan, generasi ini akan memegang kendali proyek-proyek EBT dalam 5-10 tahun lagi.? Karenanya, mereka harus disiapkan mulai sekarang. Melalui pembelajaran atau training yang sudah cukup tersedia di publik, atau melalui program Pemerintah di Kampus Merdeka. Patut diapresiasi yang dilakukan oleh Kementerian ESDM untuk anak-anak muda penggiat energi bersih. Kementerian telah melahirkan program Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya atau Gerilya untuk mahasiswa Indonesia, yang bahkan bisa dinilai dan dikonversi setara 20 SKS. Ini salah satu aksi nyata Pemerintah untuk peningkatan kapasitas anak muda yang kelak akan jadi generasi pengganda pengembangan energi baru terbarukan di tanah air. Melalui Gerilya, mereka bukan sekedar belajar tapi juga mendapatkan pengalaman bekerja melahirkan proyek-proyek energi bersih di lingkungannya. Di sini juga terbuka peluang?job creation, penciptaan lapangan kerja, melalui berbagai jenis perusahaan rintisan (start up) di sektor PLTS Atap. Jika ini dilakukan, maka sejatinya kita telah melakukan upaya gotong royong dalam penyediaan listrik melalui pengembangan energi alternatif. Kebijakan Pemerintah sudah?on the track. Kini, pertanyaan dan tantangan selanjutnya, ada pada kita semua. Jika ingin segera beralih ke energi yang bersih dan ikut menjaga iklim dunia, maka marilah mulai membangun energi alternatif di rumah atau lingkungan kita masing-masing.

News / Sustainable and Livable Planet
Menteri Siti Percaya, Milenial Mampu Hadapi Tantangan Perubahan Iklim
Khoirul Umam
6 Oktober 2021
Generasi milenial dinilai berperan penting dalam keikutsertaan membangun bangsa dan negara. Paparan Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2020 menyebutkan, dari total keseluruhan populasi rakyat Indonesia itu didominasi generasi milenial. Karenanya, peran pemuda dalam membangun bangsa perlu digencarkan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Menteri LHK), Siti Nurbaya Bakar di acara diskusi virtual Rakyat Merdeka bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan, saat ini generasi milenial mulai menggeliat dalam agenda perubahan iklim. "Ciri-cirinya berani mengemukakan pendapat, kemampuan menyerap, menilai dan memberikan gagasan baru yang inovatif, serta kreatif memiliki ide out of the box," kata Siti Nurbaya dalam acara yang bertemakan 'Tekad Generasi Muda Indonesia dalam Aksi Iklim dan Energi Bersih', Rabu (6/10). Selain itu, di dalam tubuh generasi milenial tumbuh kepribadian yang sangat kompleks. Oleh karena itu, mudah bagi generasi milenial menghadapi tantangan untuk beradaptasi dalam aksi penanggulangan iklim. "Generasi Z itu mobilitasnya tinggi, dinamis, penuh energi, dan senantiasa bergerak. Sosialnya tinggi, peduli dan tanggap dengan kejadian di sekitar. Serta memiliki kemurnian idealisme dan mandiri mencoba melakukan uji coba, mencari dan memberi contoh, dan mau memengaruhi orang lain dan berbagi pengetahuan," jelas politisi NasDem itu. Selain itu, dia optimis generasi muda Indonesia mampu mencegah perubahan iklim dan mendukung energi besi. Hal ini tentunya, lanjut Siti, dapat memberikan perluasan persepektif tentang peranan sektor energi dan generasi muda dalam mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca. Pun, dalam peningkatan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim yang sangat menentukan di tingkat lokal, nasional, maupun global. "Ini memberikan contoh keteladanan bagi berbagai elemen lainnya untuk bangsa ini, sekaligus dapat memengaruhi upaya konstruktif membangun bangsa dan negara Indonesia. Kita merestui langkah-langkah ini bagi kemajuan bangsa," tutur mantan Sekjen DPR itu.

News / Green Energy
Wahai Generasi Rebahan, Yuk Peduli EBT!
Fajar El Pradianto
20 Mei 2021
Sekumpulan mahasiswa peduli energi yang tergabung dalam Society of Renewable Energy (SRE) menyatakan kesiapan untuk ikut aktif dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Founder of SRE Zagy Yakana Berian mengajak pemuda lainnya untuk ikut peduli. Terutama bagi generasi rebahan, sebutan bagi pemuda yang masih hobi bermalas-malasan. Biasanya generasi rebahan hobi tiduran sambil main medsos. "Kami ingin mengajak teman-teman yang lain mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan di Indonesia," ujar Zagy, dalam acara Malam Penganugerahan Kompetisi Penulisan Artikel Energi Baru Terbarukan, Kamis (20/5). Niatan para pemuda untuk aktif menciptakan konsep dan belajar mengembangkan potensi EBT mendapat dukungan pemerintah. Bahkan, SRE sudah melibatkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyelenggarakan lomba penulisan artikel melalui kegiatan International Youth Summit Renewable Energy (IYSRE) 2021. "Kegiatan inspiratif kolaborasi mahasiswa dengan Kementerian ESDM ini sangat baik. Karena energi baru terbarukan ini akan memberikan dampak yang baik untuk banyak orang," katanya. Dia bersama para mahasiswa lainnya dari 34 universitas di Indonesia mengajak generasi rebahan untuk memulai perubahan. Sudah waktunya generasi muda menunjukkan kepedulian bagi energi. "Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan yang sangat besar. Sebab itu, harus dimanfaatkan. Salah satunya energi surya yang belum dimanfaatkan secara optimal," kata Zagy. Dia memastikan, event IYSRE masih akan berlanjut. Tak hanya menggelar lomba tapi juga sudah membuat kegiatan proyek kecil di Desa Karangwangi, di Garut, Jawa Barat. Proyek tersebut berupa pemasangan solar water pumping system for agriculture. "Jadi, itu sebuah sistem irigasi yang memanfaatkan tenaga matahari untuk melistriki sistem pengairan di wilayah tersebut," jelasnya. Sedangkan untuk lomba di 2021 sudah sukses dilakukan. Lomba penulisan artikel energi baru terbarukan ini mendapat tanggapan antusias para mahasiswa. Dari lomba tersebut, telah dipilih 10 orang juara karya terbaik. "Setelah digelar kick-off pada April lalu, tercatat ada 750 orang peserta dan 569 orang di antaranya yang mendaftar kompetisi ini adalah anak-anak muda semua," tukas Zagy.
Most Popular
Research / Food Security
Green Jobs Outlook Menuju Indonesia Emas 2045: Peluang dan Kompetensi Masa Depan di Sektor Energi, Pangan, Industri, dan Pengolahan Limbah
Aufar Satria, Zagy Yakana Berian, Reiner Nathaniel Jabanto, Leonardi Ryan Andika, Justine Kael Tanady, Juan Khosashi, Bryan Eagan, Ryan Kendrick Hoatmodjo, Raffy Hakim Subekti, Claudia Suwardi, Melvyn Kearney, Averey Sinclair, Nala Amirah Putri, Angelica Valerie
21 April 2024
News / Sustainable and Livable Planet
Dorong Komitmen Keberlanjutan, Cathay Kembali Menanam 1.000 Pohon Mangrove di Pulau Pramuka
Zagy Berian
6 Mei 2024
Research / Green Economy
Pedoman Teknis Pemanfaatan CSR: Pengembangan Korporasi Petani Hijau / Green Agriculture Corporation
Zagy Yakana Berian, Raffy Hakim Subekti, Reiner Nathaniel Jabanto
20 April 2024
Opinion / Sustainable and Livable Planet
Learning from Youth-Led Climate Action: Lessons Learned from Society of Renewable Energy
Zagy Yakana Berian
21 April 2024